Jumat, 20 September 2013

ayat-ayat Alquran yang menjadi dasar tasawuf



BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  KATA PENGANTAR

Al Quran dan As-Sunnah adalah nash. Setiap muslim kapan dan dimana pun dibebani tanggung jawab untuk memahami dan melaksanakan kandungan dalam bentuk amalan yang nyata. Pemahaman terhadap nash tanpa pengamalan akan menimbulkan kesenjangan.
 Dalam hal inilah, tasawuf dalam pembentukannya adalah manifestasi akhlak atau keagamaan. Moral keagamaan ini banyak disinggung dalam Al Quran dan As-Sunnah. Dengan demikian, sumber pertama tasaawuf adalah ajaran-ajaran Islam, sebab tasawuf ditimba dari Al Quran, As-Sunnah, dan amalan-amalan serta ucapan para sahabat. Amalan serta ucapan para sahabat tentu tidak keluar dari ruang lingkup Al Quran dan As Sunnah. Dengan begitu, jutru dua sumber utama tasawuf adalah Al Quran dan As Sunnah itu sendiri.
Tasawuf adalah usaha untuk membangun manusia dalam hal tutur kata, perbuatan, serta gerak hati – baik dalam skala kecil yaitu pribadi maupun dalam skala yang lebih besar – dengan menjadikan hubungan kepada Alloh SWT sebagai dasar bagi semua itu.
Sehingga alquran dan hadis, keduanya merupakan sumber dari segala ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, baik bagi mereka yang hidup pada zaman yang masih sangat tradisional, atau bagi mereka yang mampu mencapai peradaban yang gemilang. 



1.2     RUMUSAN MASALAH
a.       Mengapa alquran dijadikan sebagai dasar tasawuf?
b.      Ayat-ayat alquran apa saja yang menjadi dasar tasawuf

1.3           TUJUAN
a.        Mengetahui mengapa alquran dijadikan sebagai dasar tasawuf
b.      Mengetahui ayat-ayat alquran yang menjadi dasar tasawuf















BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1   Alquran sebagai dasar tasawuf
Dalam mendefinisikan tasawuf terdapat banyak perbedaan di kalangan para sufi. Namun perbedaan pendefinisian itu bukanlah hal sepeleh, tapi memang ada dasar-dasar yang menjadi landasan berfikir para sufi.
Sumber-sumber tasawuf diantaranya adalah:
a.       Alquran sebagai sumber utama,- berdasarkan seruan alquran untuk bersikap zuhud, kemudian seruan alquran untuk beribadah dan apresiasi alquran terhadap ilham
b.      Kehidupan rosululloh sebagai sumber kedua- kezuhudan rosululloh dan kesederhanaanya. Kemudian ibadah ekstra rosululloh dan apresiasi rosululloh terhadap ilham
c.       Kehidupan sahabat dan khulafaur rasyidin, sebagai sumber ketiga,- Abu Bakar ash-shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib.

Azas dalam ajaran islam yang paling fundamental adalah ketauhidan yaitu keyakinan atas keesaan  Alloh, yang tidak bersekutu dan tidak tersamai kekuasaan-Nya. Bagi setiap muslim wajib meyakini bahwa keseluruhan risalah tuhan terhimpun dalam Alquran, sebuah kitab wahyu yang diturunkan dari waktu ke waktu selama 23 tahun kepada Nabi Muhammmad SAW. Alquran akan selalu terjaga keasliannya atau keotentikannya karena Alloh telah menjaminnya sebagaimana yang tercantum dalam firman-Nya, sesungguhnya kamilah yang menurunkan alquran dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr [15]:9)
 Dengan demikian, alquran merupakan sumber tertinggi di mana para sufi mencari tuntunan dan pembenaran. Cara pewahyuan alquran ini menjadi daya tarik yang luar biasa oleh para sufi, karena telah terbukti nyata bahwa Alloh dengan cara khusus telah berfirman langsung pada seorang manusia yang bernama Muhammad Ibn Abdillah, yang diangkat sebagai utusan-Nya. Para sufi juga menyadari mengapa Nabi Muhammad sangat dimuliakan oleh tuhan, hingga mampu secara terus-menerus berhubungan dengan tuhan, sepanjang masa kerasulannya. Dengan begitu para sufi terdorong dengan  sungguh-sungguh untuk menelaah kehidupan Nabi Muhammad SAW.
Nabi Muhammad sejak awal islam selalu dikelilingi oleh pengikut-pengikut setianya, yang senantiasa berusaha mengikuti sikap dan perilaku, jejak dan langkah, keshalihan, kezuhudan, ketawadhuan, kekuatan dzikir, dan ketekunan ibadah nabi, sehingga mendapat anugerah dan karunia tuhan yang tak terbatas. Mereka para sufi sangat merindukan itu semua, sehingga berharap dapat diberikan anugerah dari tuhan untuk bisa dipilih oleh auliya’-Nya.
Para sufi yang mendambakan sekali kemuliaan dan kemesraan seperti itu- sangat tekun mempelajari sikap dan perilaku para wali-wali Alloh, baik dalam komunitas masyarakat atau secara individu, misalnya dengan meresapi sikap dan perilaku, kata-kata bijak atau kata-kata hikmah, dengan syair ruhani dan cinta samawi ajaran mereka. Akhirnya karena ketaatan dan kepatuhan mereka terhadap ajaran tuhan, dengan tuntunan firman Alloh, dengan sunnah nabinya, dan keteladanan para wali yang hidup zuhud, wara, banyak berdzikir, banyak tafakur, penuh kesadaran kefanaan duniawi, maka para sufi itu sendiri memperoleh “tanda-tanda ilahiyah” yang dianugerahkan oleh Alloh kepada mereka, melalui tahapan-tahapan atau maqam dan kemudian Hal pada masing-masing sufi. Ahwal sifatnya jamak, dan hal sifatnya tunggal, adalah suasana atau kondisi ruhaniah yang luhur dalam perjalanan spiritual. Dengan hal inilah seorang sufi memperoleh bukti dan pengalaman tentang hubungan istimewanya dengan tuhan, dan inilah yang disebut sebagai karamah.
Karamah adalah suatu ke-waskitaan yang luar biasa dari seorang sufi. Namun demikian, karomah maupun khawariqul ‘adah bukanlah tujuan utama dari sufi. Ada tujuan yang jauh lebih utama dari hal itu. Bahkan seorang ilmuwan sufi dari Mesir bernama Abdul Halim Mahmud mengatakan, “… kalau masalah karomah itu bukanlah sesuatu yang menjadi kepedulian para sufi, hal semacam itu oleh sufi dianggap sepele saja. Sehingga bila seorang sufi sudah puas dengan karamahnya, itu berarti dia sudah berhenti dan tidak ada kemajuan yang patut dibanggakan.”
Jelas bahwa tasawuf tidak bisa dipisahkan dari keseluruhan agama. Bahkan jika tasawuf itu adalah disiplin yang berurusan dengan batin, maka berarti juga merupkan inti dari keagamaan atau religiusitas yang bersifat esotherik.[1] Dari pengertian ini maka ilmu tasawuf  tak lain merupakan penjabaran secara nalar atau teori ilmiah tentang apa sebenarnya taqwa. Penjabaran atau penjelasan mengenai taqwa selalu dikaitkan dengan ihsan. Dalam hadis nabi dikatakan, ihsan adalah bahwa engkau menyembah tuhan seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya maka (engkau harus menyadari bahwa) Dia melihat engkau.
Hadis ini sejalan dengan firman Alloh, “Dan sembahlah tuhanmu, sehingga datang kepadamu keyakinan.”[2]
Karena itu pengajaran tasawuf hendaknya ditanamkan kepada jiwa anak, sehingga terjadi kesadaran pada mereka akan hadirnya tuhan dalam kehidupan manusia, dan kesadaran bahwa tuhan selalu mengawasi segala tingkah laku kita.
Ke mana pun kamu menghadap, maka disanalah wajah tuhan.[3]
Dia beserta kamu, kemanapun kamu berada, dan Dia mengetahui segala sesuatu yang kamu perbuat.[4]
Dari segi ini akan tampak jelas betapa eratnya rasa ketuhanan, taqwa, ihsan, atau religiusitas dengan rasa kemanusiaan, amal sholikh, akhlaq, dan budi pekerti, atau tingkah laku ethis. Juga tampak kaitan antara aspek lahir juga aspek batin.
Alquran memuat berbagai firman yang merujuk kepada pengalaman spiritual nabi. Misalnya gambaran tentang dua kali pengalaman bertemu dan berhadapan dengan malaikat Jibril dan Alloh. Yang pertama ketika Nabi menerima wahyu pertama di Gua Hira’, di atas bukit cahaya atau Jabal Nur. Dan yang kedua, ialah pengalaman beliau dengan perjalanan malam (isra’) dan naik ke langit (mi’raj) yang terkenal itu.
Bagi kaum sufi, pengalaman Nabi dalam Isra Mi’raj itu adalah sebuah contoh puncak pengalaman ruhani  yang bisa dialami oleh seorang Nabi. Namun kaum sufi berusaha meniru dan mengulanginya bagi mereka sendiri, dalam dimensi, skala, dan format yang sepadan dengan kemampuan mereka. Sebab inti pengalaman itu adalah penghayatan yang kuat terhadap situasi diri yang sedang berada di hadapan Tuhan, dan bagaimana ia bertemu dengan Dzat yang maha tinggi itu.

2.2   Ayat-ayat alquran yang menjadi dasar tasawuf
Dari alquran, para sufi mengambil pemikiran-pemikiran tentang hubungan antar manusia dengan tuhannya, juga mengenai etika, tindakan, olah diri atau riyadhoh sebagai jalan mendekatkan diri kepada Alloh. Thusi telah menjelaskan pada kita dalam kitabnya yang berjudul al-Luma[5] bahwa para sufi senantiasa melakukan akhlak yang terpuji, mengkaji arti kondisi dan keutamaan amal perbuatan, karena mensuri tauladani nabi, sahabat, dan pengikutnya. Ini semua menurutnya ada dalam kitab suci Alquran[6].
Hakikat tasawuf adalah mendekatkan diri pada Alloh. Hal kedekatan ini disebutkan Alloh dalam Alquran:
وإذا سألك عبادي عني فإنى قريب أجيب دعوة الداع إذا دعان فليستجيبوا لي واليؤمنوا بي لعلهم يرشدون.[7]
Jika hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka Aku sangat dekar dan mengabulkan seruan yang memanggil jika Aku dipanggil.
Alloh dalam ayat itu mengatakan bahwa ia dekat kepada manusia dan mengabulkan permintaan bagi setiap peminta. Maka kaum sufi mengartikan doa di sini bukan sekadar berdoa, melainkan berseru agar tuhan mengabulkan seruannya untuk melihat tuhan dan berada dekat dengan-Nya. Dengan kata lain, ia berseru agar tuhan membuka hijab dan menampakkan diri-Nya kepada yang berseru. Tentang kedekatan dan pengabulan penampakan wajah tuhan itu, dikemukakan dalam Alquran:
ولله المشرق و المغرب فأينما تولوا فثم وجه الله إن الله واسع عليم .[8]
Timur dan barat itu kepunyaan Alloh, kemana pun saja kamu berpaling, di situ kamu menemukan wajah Tuhan.
Ayat ini mengandung arti bahwa dimana saja Tuhan dapat dijumpai. Tuhan sangat dekat dan sang sufi tidak perlu pergi jauh-jauh untuk menjumpai tuhan. Ayat yang lebih tegas mengenai kedekatan manusia dengan Tuhan, bahkan lebih menyatakan realitas Tuhan yang berada dalam diri manusia adalah:
ولقد خلقنا الإنسان ونعلم ما توسوس به نفسه ونحن اقرب اليه من حبل الوريد .[9]
Telah kami ciptakan manusia dan kami tahu apa yang dibisikkan dirinya kepadanya. Kami lebih dekat kepada manusia dari pada urat pembuluh darah yang ada di lehernya.
 Dari penjelasan mngenai hubungan manusia dengan tuhannya itu, menciptakan sebuah jalan[10] bagi para sufi untuk mendekatkan diri kepada Alloh yang diawali dari memerangi hawa nafsu. Seorang menempuh jalan itu secara bertingkat dan akan mengalami fase-fase yang berbeda yang dikenal dalam kalangan sufi sebagai maqomat (tingkatan-tingkatan spiritual) dan ahwal (kondisi), yang akhirnya tingkatan dan kondisi tersebut berakhir pada pengetahuan terhadap Alloh. Itu merupakan ujung dari jalan tersebut. Contoh dari maqom-maqom tersebut adalah taubat, wara’, zuhud, fakir, sabar, ridho, tawakkal, dan lain sebagainya.
Sedangkan hal adalah pengawasan diri, kedekatan, kecintaan, ketakutan, harapan, kerinduan, kegembiraan, ketenangan, yakin, dan lain sebagainya.
Para sufi membedakan secara terperinci mengenai maqom dengan hal. Maqom menurut mereka bercirikan sebuah ketetapan, sedangkan hal adalah mudah hilang.  Keseluruhan maqomat dan hal para sufi merupakan objek-objek yang bersandarkan pada Alquran. Oleh karena itu, kami akan mengungkapkan ayat-ayat alquran yang dijadikan dasar maqomat dan hal tersebut. Misalnya dalam hal memerangi hawa nafsu yang merupakan awal jalan menuju Alloh, bersandar pada firmannya: “dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridoan) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Alloh benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”[11] Dan firman Alloh: “dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah yang menjadi tempat tinggalnya.[12] Dan juga firman Alloh: “sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.[13] Sedangkan maqom taqwa bersandar pada firman Alloh: “sesungguhnya yang paling mulia di sisi Alloh adalah yang paling takwa diantara kalian”[14]
 Para sufi pun juga menyandarkan maqom zuhud pada ayat alquran: “katakanlah! Bahwa kesenangan-kesenangan dunia adalah sedikit, sedangkan akhirat adalah lebih baik bagi orang yang bertakwa.[15]
Dan para sufi menyandarkan maqom tawakal pada ayat alquran “dan barang siapa yang bertawakal kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan kebutuhannya.[16] Dan pada ayat: “kepada Alloh lah orang-orang beriman berserah diri.[17]
Dan para sufi menyandarkan maqom syukur pada ayat alquran: “jika kalian bersyukur, niscaya aku akan menambhkannya.[18]
Sedangkan maqom sabar, para sufi menyandarkannya pada ayat Alquran, “bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Alloh.”[19] Dan “berikanlah berita-berita gembira pada orang-orang yang sabar.[20]
Sedangkan maqom ridho disebutkan pula dalam firman Alloh: “Alloh ridho terhadapnya , itulah keberuntungan yang paling besar.[21]
Dan maqom haya’ (rasa malu) yang berlandaskan pada ayat: “tidakkah dia mengetahui bahwasanya sesungguhnya Alloh melihat segala perbuatannya?
Terdapat maqom fakir yang diartikan sebagai membutuhkan Alloh. Menurut para sufi maqom ini berlandaskan pada ayat Alquran yang berbunyi: “(berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Alloh.”[22] Dan ayat: “Allohlah yang maha kaya, sedangkan kamu kamulah orang-orang yang berkehendak kepada-Nya.”[23]
Dan terdapat pula maqom kecintaan antara hamba dengan tuhannya. Ia dinyatakan secara jelas dalam Alquran: “hai orang-orang yang beriman, barang siapa diantara kamu yang murtad dari agamanya,maka kelak Alloh akan mendatangkan suatu kaum yang Alloh mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya.[24]
Sedangkan hal  juga berlandaskan pada Alquran. Misalnya dalam kondisi takut, maka dapat dilandaskan pada firman Alloh: “dan mereka selalu berdoa kepada rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rezeki yang kamu berikan.[25]
Dan kondisi berduka yang berlandaskan pada ayat: “dan mereka berkata, segala puji bagi Alloh yang telah menghilangkan duka cita dari kami.
Bahkan olah diri (riyadloh) sebagian para sufi, terutama yang paling urgent yaitu dzikir, dapat ditemukan pula sumbernya dari Alquran: “hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah dengan menyebut nama Alloh, dzikir yang sebanyak-banyaknya.”[26]
Doa bagi para sufi yang merupakan bagian dari olah diri yang terbentuk dari adab-adab juga berlandaskan pada firman Alloh yang sangat banyak. Misalnya adalah: “Berkatalah tuhan kalian! Berdoalah kepadaku, niscaya aku akan mengabulkannya.[27] Dan firman Alloh: “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadanya.”[28]
Dari pemaparan di atas, tampak bahwa benih pertama tasawuf  islam, dari hubungan manusia dengan tuhannya, tinjauan dirinya sebagai ilmu tentang maqomat dan hal sudah ada dalam Alquran. Dengan demikian dari tinjauan kemunculannya yang pertama adalah berasal dari Alquran. Sebagaimana Alquran adalah sumber utama para sufi membentuk kesufiannya, maka kehidupan nabi dari segi penyembahannya, etika, dan perkataan-perkataannya, tak lain juga merupakan salah satu sumber dari beberapa sumber tasawuf .












BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Ø  Ada beberapa macam sumber tasawuf, diantaranya adalah :
a.       Alquran sebagai sumber utama
b.      Kehidupan Rasululloh sebagai sumber kedua
c.       Kehidupan sahabat dan khulafaur rasyidin sebagai sumber ketiga
Ø  Alquran sangat istimewa sehingga diturunkan di muka bumi ini juga pada hambanya yang istimewa, Muhammad SAW.
Ø  Alquran sebagai sumber tasawuf tertinggi di mana para sufi mencari tuntunan dan pembenaran
Ø  Dari  alquran, para sufi mengambil pemikiran-pemikiran tentang etika, tindakan, olah diri, sebagai jalan untuk mencapai tujuannya dalam kehidupan tasawuf


[1] Dimensi kebatinan
[2] . QS. Al-hijr [15]: 99
[3] . QS. Al-baqarah[2]: 15
[4] . QS. Al-hadid[57]: 4
[5] Kitab al-Luma hal 31
[6] Kitab al-Luma hal 32
[7]. QS. Al-baqarah [2]: 186
[8] .QS. al-baqarah [2]: 115
[9] . QS. Qaaf: 16
[10] Tharik, dari tinjauan bahasa adalah sesuatu yang dijadikan jalan oleh kaki. Dan dijadikan kata kiasan untuk menyatakan segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia, baik perbuatan baik maupun perbuatan buruk (Al ashfahani, mufrodat ghoribul quran).
[11] . QS. Al-ankabut: 69
[12] . QS. An-naziat: 41-42
[13] . QS Yusuf: 53
[14]. QS. Al-hujarat: 13
[15].  QS. An-nisa:77
[16] . QS. Talaq: 31
[17]. QS. At-taubah:
[18] . QS. Ibrahim: 7
[19]. QS. An-nahl: 127
[20]. QS. Al-Baqarah: 155
[21] . QS. Al-maidah: 119
[22] . QS. Al-baqarah: 273
[23] . QS. Muhammad: 38
[24] . QS. Al-maidah: 54
[25] . QS. As-sajdah: 16
[26] . QS. Al-ahzab: 41
[27] . QS. Ghafir: 60
[28] . QS. An-naml: 62